Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Lakukan Penggerebekan, Polisi Temukan Dua Gembong Pabrik Psikotropika di Yogyakarta

Polisi berhasil menggeledah praktik penggunaan obat-obatan terlarang jenis psikotropika yang berlokasi di Kab. Sleman dan Kab. Bantul, pada Senin (27/9/2021). Berdasarkan penelusuran, polisi sukses menangkap 3 orang tersangka, yakni para pengelola dua pabrik produksi obat-obatan terlarang yang berlokasi di Yogyakarta tersebut.

Dilakukan secara sistematis, upaya penangkapan ini merupakan gabungan kerja sama antara Mabes Polri dengan Polda DIY. Dilakukan dengan hati-hati, polisi melakukan penelusuran di berbagai titik mulai dari Jakarta, lalu ke Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan.

Selanjutnya, polisi berhasil menemukan gembong utama penghasil psikotropika ini yang berpusat di Yogyakarta. Menurut Komjen Agus Indrianto, Kabareskrim Mabes Polri, pihaknya telah meringkus 10 orang tersangka, sedangkan pihak Polda DIY meringkus 3 tersangka lainnya yang diketahui pengelola pabrik.

Adapun ketiga tersangka yang dimaksud ialah WZ (53 tahun), LSK alias DA (49 tahun), dan JSR alias J (56 tahun). Ketiganya diketahui telah membantu modus produksi psikotropika Dextro Methorphan, LL atau double L, dan Hexymer.

“Tersangkanya di sini ada tiga, dan 10 lagi dari wilayah-wilayah yang saya sebut termasuk Jakarta. Yang jelas ini temuan yang cukup besar,” ujar Komjen Agus Indrianto saat melakukan pers release di salah satu pabrik psikotropika, yakni di Jl. IKIP PGRI No 158, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul pada Senin (27/9/2021).

Produksi Jutaan Butir dalam Sehari

Berdasarkan penelusuran pihak polisi, pihaknya menemukan bukti berbagai obat keras, seperti Trihex, DMP, Double L, Hexymer, Tramadol, Irgaphan 200 mg, hingga Aprazolam I. Dari berbagai upaya penemuan kasus yang bermula di Jakarta, polisi menemukan barang bukti obat-obatan keras ilegal di lokasi yang awalnya diduga Mega Cland Lab. Menurut pihak kepolisian, pabrik psikotropika tersebut telah memproduksi lima juta butir dalam setiap harinya dan siap kirim.

Menurut keterangan tersangka, dua pabrik yang berlokasi di Sleman dan Bantul itu telah beroperasi sejak 2018. Modus operandinya ialah obat-obatan keras itu dicabut perizinannya oleh BPOM, sehingga didistribusi secara sembunyi-sembunyi melalui koordinator wilayah di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Kalimantan Selatan.

Kini polisi mengamankan barang bukti, yaitu alat-alat produksi, prekursor/bahan-bahan kimia dasar pembuatan obat, lalu adonan yang siap diolah menjadi obat dan siap diedarkan. Terkait pemidanaan, polisi memberikan ancaman denda sebesar 200 juta dan hukuman maksimal 15 tahun penjara yang didasarkan pada Pasal 198 UU No 36/ 2009 tentang Kesehatan, Pasal 60 UU No 5/ 1997 tentang Psikotropika, dan Pasal 60 UU No 11/2020 tentang Cipta Kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tidak Kalah Menarik