Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Begini Tanggapan Polri atas Tagar #PercumaLaporPolisi yang Viral

Buntut dari banyaknya kasus pelecehan seksual yang diabaikan oleh kepolisian, membuat netizen meramaikan tagar #percumalaporpolisi.  Salah satu trigger ramainya cuitan tagar ini ialah kasus dugaan pemerkosaan anak oleh Polres Luwu Timur pada akhir 2019 yang dinyatakan ditutup kasusnya tanpa satu orangpun dijadikan tersangka.

Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengungkapkan pada Jumat (8/10) bahwasanya masyarakat tidak begitu saja menyimpulkan polisi mengabaikan kasus ini dan menutupnya begitu saja. Kepolisian tentu telah menyelidiki kasus ini dengan proses dan alat bukti terkait namun memang tidak ditemukan cukup bukti untuk menjerat seseorang.

Kasus Pelecehan Anak di Luwu Timur tahun 2019

Kapolres Luwu Timur AKBP Silvester MM Simamora pada Kamis (7/10) memberikan penjelasan bahwa kasus dugaan pelecehan anak ini terjadi pada awal Oktober 2019.

Yang kemudian kasus tersebut dinyatakan secara resmi dihentikan lantaran tidak ditemukannya cukup bukti adanya tindak pidana pencabulan. Hal ini membuat amarah warganet memuncak dan memviralkan tagar #percumalaorpolisi di jagat sosial media Twitter.

Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menambahkan sebuah kasus pasti akan ditindaklanjuti apabila memang ditemukan alat bukti yang kuat serta penyidik memiliki keyakinan adanya tindak pidana yang dilakukan. Namun ia menjelaskan pada laporan dengan alat bukti yang ternyata tidak mencukupi untuk menjerat dan tidak adanya keyakinan penyidik maka laporan tidak akan dilanjutkan.

Penanganan Kasus Sebelum Viral

Polres Luwu Timur di tahun 2019 sudah memproses kasus ini namun memang tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menjerat terduga pelaku dengan pasal pencabulan anak.  Saat itu, pernyataan kepolisian Luwu Timur telah mendapat perlawanan dari Lembaga Bantuan Hukum Makassar.

Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar, Resky Pratiwi dengan tegas menjelaskan LBH tengah mengantongi bukti adanya lecet dan beberapa tanda kekerasan pada dubur/anus ketiga anak yang diduga jadi korban pelecehan seksual.

Namun hal ini  jauh berbedaq dengan temuan polisi yang menyatakan tidak adanya luka di dubur atau vagina kesemua korban. Namun kepolisian bersikeras tidak dapat melanjutkan kasus dan menutup kasus tersebut hingga viral ditentang warganet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tidak Kalah Menarik